Senin, 03 Januari 2011

ANTARA DEWASA, MERDEKA, DAN PENGHASILAN

Apa kira-kira pertanyaan dasar yang akan muncul ketika kita dewasa dan ingin mandiri? Secara hakiki keinginan untuk mandiri adalah suatu keniscayaan yang secara alamiah akan muncul ketika seseorang mencapai fase remaja dan dewasa. Hal itu merefleksikan eksistensi kita sebagai “seseorang”. Itulah mengapa kita sering merasa senang bahkan bangga kalau kita berhasil mengerjakan sesuatu dengan usaha sendiri.

Setiap Anak ketika menginjak dewasa pastilah menginginkan kemerdekaan dalam memutuskan sesuatu. Contoh: ketika kita kecil kita dibelikan baju apa saja pastilah kita pakai, namun menginjak dewasa, bahkan remaja, kita enggan dipilihkan oleh orang tua. Kita ingin memilih sendiri pakaian yang ingin kita pakai. Hingga pada akhirnya sampai pada fase kita ingin mengatur semua aset yang kita miliki. Sehingga kita merasa merdeka dan “berkuasa” atas aset yang kita miliki. 
Lalu apakah Anda telah memiliki penghasilan sendiri? Nah, itulah awal permasalahannya. Ketika kita ingin mandiri, segala keinginan ada dalam daftar “kekuasaan” kita. Dan keinginan itu tentu sangat tidak terkait dengan keinginan orang tua kita. Sehingga kita akan berusaha sebisa mungkin untuk mewujudkannya, bagaimanapun biayanya. Disinilah kita harus mengusahakan sumber-sumber pembiayaan mandiri.
Itulah sebabnya kita sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab perlu memiliki penghasilan yang kita usahakan sendiri. Dan kita tentu mengerti konsekuensinya. Ya, kita harus mengubah pola pikir kita dari pola pikir kanak-kanak, yang tidak mengerti arti konsekuensi kemandirian, menjadi pola pikir dewasa, yang mestinya mengerti arti sebuah konsekuensi kemandirian.


Jadi sudahkan anda memiliki penghasilan? Jika sudah, pertanyaannya adalah cukupkah penghasilan anda? 
Jika belum, sabar ya..
tunggu artikel berikutnya.
Read More »

Rabu, 06 Oktober 2010

TIM PEMBURU

Jogjakarta segera membentuk Tim Pemburu! tingkatkan kewaspadaan! begitu tema talkshow di sebuah stasiun radio di Jogjakarta yang saya dengar sembari menjadi sopir pribadi anak-anak berangkat sekolah. Wah..virus cemas teroris apa juga menjalar ke Jogjakarta? ternyata tidak!. Itu Tim Pemburu Pembuang Sampah Sembarangan. Ya, sebuah tim yang akan mengejar siapa saja yang membuang sampah sembarangan bahkan jika sampah dibuang sambil bermotor dan bermobil.
Wah, setujuuuu! Soalnya sebel juga campur jijik, melihat kelakuan para penumpang mobil pribadi yang katagorinya termasuk mobil mewah sembarangan membuang sampah melalui jendela mobilnya. Seolah-olah diluar mobilnya, semuanya adalah tempat sampah. Dan bisa jadi kecelakaan berawal dari membuang sampah sambil bermobil.
Menurut Dinas yang terkait di Kota Jogjakarta, jumlah sampah akibat orang membuang sampah sembari berkendaraan cukup besar terutama jika musim liburan tiba. Padahal Dinas Kebersihan sampai mengadakan acara mencuci malioboro, agar tetap terlihat bersih dan bebas sampah.
Tetapi secara teknis apa mungkin dilaksanakan, mengingat perlu pos anggaran baru untuk membentuk TIM PEMBURU tersebut.
Jika benar-benar terealisasi, siap-siap saja jika tiba-tiba mobil anda diburu TIM PEMBURU, dan kemudian diberhentikan seraya mengucapkan," Maaf, Pak. Sampah Bapak terjatuh dari mobil. Monggo diambil kembali. Atau kami denda maksimum 20 juta!"
Read More »

Rabu, 18 Agustus 2010

ROMANTISME BERAS

Menyenangkan ketika kita mengingat kembali masa lalu kita, dimana kita dapat bermain dengan bebas di luar rumah. Lingkungan yang mendukung, udara yang masih bersih, serta makanan, yang tentu saja bukan makanan instan, yang dihasilkan petani dengan pertanian yang selaras alam. Memberikan kenangan yang menyenangkan, terutama makanannya. Betapa tidak, sangat menyenangkan ketika membakar ubi dan jagung di kebun, memakan buah-buahan dibawah pohonnya, tanpa takut pestisida kimia yang meracuni kita.

Masih jelas dalam ingatan, ketika orang tua dahulu menyajikan nasi merah sebagai makanan utama. kemudian lambat laun seiring dengan kuatnya program swasembada pangan, lebih teparnya IR-isasi (karena semua petani “dipaksa” menanam padi jenis IR) jaman orde baru. Dengan lauk pauk yang sangat beragam. Sedapnye...., seperti kata si Upin dan Ipin.
Kemanakah beras merah sekarang? Hingga anak-anak kita tidak mengenalnya. Bahkan anak kedua kami yang kedua begitu takjub ada beras berwarna merah, sedang kakaknya enggan memakannya karena katanya itu makanan burung!. Nah lo! Sejauh yang saya tahu beras merah justru memiliki kandungan gizi yang lebih tinggi dari beras putih bisa apalagi yang kelas IR.

Dan sejatinya beras merah telah dikenal sejak tahun 2800 SM. Saat itu para tabib percaya bahwa beras merah memiliki nilai medis yang dapat memulihkan kembali rasa tenang dan damai. Ribuan tahun kemudian dengan perkembangan teknologi diketahuilah bahwa ternyata memang beras merah memiliki kandungan Gizi yang lebih tinggi dari beras putih biasa. Bahkan dulu di beberapa negara di Asia, beras merah lebih dikaitkan dengan masa kemiskinan atau masa perang dan jarang sekali dikonsumsi kecuali oleh orang yang sedang sakit, manula, dan penderita sembelit.

Namun sekarang rasanya kita semua membutuhkan, meskipun tidak kekurangan pangan namun barangkali kekurangan gizi (he..he..he...). Itu barangkali sebabnya orang-orang kita sulit sekali diajak berpikir dengan tenang, terlalu banyak makan beras proyek barang kali..he..he..he.

Itulah mengapa ketika di jogja ada warung dengan menu ayam goreng kampung dan nasi beras merah langsung jadi kegiatan rutin bulanan keluarga. Dan ketika ditawari beras merah siap saji tidak berpikir panjang lagi segera menjadi menu harian keluarga. Pendek kata, sebisa mungkin Lengkapi gizi keluarga, prinsipnya kenyang perlu, bergizi juga, sehat iya. Yuk, makan beras merah lagi!....
Read More »

Sabtu, 17 Juli 2010

OPTIMALISASI KEKUATAN: SEBUAH CARA UNTUK SUKSES

Tak perlu dipungkiri lagi manusia adalah makhluk paling sempurna, akan tetapi selalu ada saja yang dirasakan sebagai kelemahan jika dibanding dengan orang lain. Sering kita mengatakan “aku lebih ...dari pada kamu, atau saya gagal karena saya tidak bisa.....” yang kemudian diukur sebagai kelebihan atau kekurangan dibanding orang lain. Sedangkan ukuran yang digunakan seringkali sangat subyektif.
Agak klasik memang jika kita berbicara mengenai apakah seseorang mampu atau tidak mencapai apa yang diimpikannya. Biasanya orang kemudian akan menelusuri sumberdaya yang dimilikinya. Sebagian orang sibuk meratapi kekurangannya. Sebagian lagi sibuk menjalaninya saja tanpa mengantisipasi segala yang berkaitan dengan kekurangannya. Orang-orang ini pada akhirnya akan merasa gagal dalam hidupnya dan menyerah pada keadaan, tanpa mau memperbaikinya.
Disisi lain ada orang yang pandai mengelola sumberdayanya sehingga ia dapat mencapai apa yang diinginkannya. Mereka mengerti benar bahwa dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Mereka akan menggunakan apa yang dimilikinya sebaik mungkin sehingga tujuannya tercapai. Biasanya orang-orang ini akan menilai dirinya dengan parameter kekuatan atau kelemahan. Yang berarti mereka menganalisa apa yang bisa dilakukannya dengan kekuatan dan kelemahannya agar tujuannya tetap tercapai. Mereka tidak membandingkan diri mereka dengan orang lain, melainkan mengukur kekuatan apa saja yang bisa digerakkan sehingga kelemahannya tidak menjadi penghambat.
Orang-orang sukses biasanya adalah orang-orang yang mampu mengelola kekuatannya dengan sangat baik. Mereka merinci kekuatannya dan mengukurnya sampai dimana kekuatan itu bisa digerakkan, bahkan mereka menggabungkan kekuatan yang dimiliki sehingga menjadi kekuatan yang lebih besar. Kita bisa melihat berbagai contoh yang kadang diluar logika kita. Bisa kita temui bagaimana orang tanpa tangan atau kaki dapat berenang dengan baik, bahkan lebih baik dari kita yang memiliki tangan dan kaki. Bagaimana orang yang buta bisa menciptakan sofware komputer yang sangat bermanfaat bukan saja untuk orang buta namun untuk orang banyak. Dan tentu saja bagaimana orang yang sangat miskin bisa bersekolah hingga mencapai gelar doktor. Sering juga kita melihat orang yang dicap paling bodoh ketika sekolah justru sekarang menjadi guru yang hebat.
Pelajaran yang bisa kita ambil adalah orang-orang yang sukses selalu tahu tujuannya. Sehingga mereka akan memusatkan perhatian pada bagaimana menggerakkan semua kekuatannya untuk mencapai tujuannya. Ini berarti kekuatan diri menjadi fokus untuk digerakkan. Mereka akan mengoptimalkan kekuatannya untuk mencapai hasil yang maksimal.
Lalu bagaimana dengan kelemahan yang dimiliki oleh orang-orang sukses itu?. Bagi orang-orang sukses kelemahan bukanlah sesuatu yang harus dilawan. Mereka menerima kelemahan tersebut dengan ikhlas. Mereka memandang bahwa kelemahan adalah bagian tak terpisahkan dari kekuatan yang merka miliki. Bagi mereka, kelemahan yang merka miliki adalah sebuah keunikan yang membedakan mereka dengan orang lain.
Keunikan, itulah kata yang justru membangun kekuatan baru, ketika dihadapkan pada kelemahan yang dimiliki. Setiap orang adalah unik, tidak ada satupun orang yang sama persis. Selalu ada persamaan dan perbedaan dengan orang lain. Oleh karena itu kualitas seseorang merupakan hubungan antara kekuatan dan kelemahan dalam menghadapi peluang dan ancaman. Seseorang dinilai berkualitas jika pandai mengelola kekuatan dan kelemahannya sehingga mampu memanfaatkan setiap peluang yang ada dan mengantisipasi ancaman yang datang.
Sekali lagi kata kuncinya adalah terimalah kelemahan anda sebagai keunikan, dan optimalkan kekuatan untuk mencapai cita-cita anda. Bagaimana dengan anda? Sibuk merenungi dan menyesali kelemahan anda atau sibuk menyusun dan mengelola kekuatan diri. Pada akhirnya semua terserah pada kita sendiri, apakah ingin lebih baik atau tetap terpuruk.

“Hidup adalah pilihan, maka saya memilih membangun kekuatan diri untuk sukses.”
SEMANGAT PAGI!
Read More »

Jumat, 18 Juni 2010

BUAH BUSUK PETANI RUGI PULUHAN MILYAR

Agus (bukan nama sebenarnya) sedang bersenang hati melihat tanaman cabainya yang tumbuh subur dan buah yang menggantung di tiap pangkal cabangnya. Terbayang sudah berapa keuntungan yang akan Agus dapatkan dari 2500 tanaman cabai yang dia tanam. Apalagi diprediksi harga cabai sedang bagus-bagusnya ketika panen 1 bulan lagi.

Ketika saatnya panen pertama, dengan semangat'45, Agus bergegas ke kebun cabainya. Mulailah Ia memanen buah pertama, prus! Kok lembek?..ah..baru satu ujarnya. Dipetiknya lagi prus! Prus!..maka curigalah Agus dengan kondisi cabainya. Kemudian dicermati kebun cabainya menyeluruh. Berkeringatlah Agus melihat banyaknya cabai yang rontok dan busuk yang merata di bawah tanaman cabainya.

Hampir 60% buah siap panennya busuk, tanpa bisa diselamatkan. Sementara buah yang masih hijau dilihatnya mulai tampak tanda-tanda akan busuk juga. Selidik punya selidik penyebab busuknya adalah lalat buah yang “menyuntikkan” telurnya ke dalam buah, sehingga buah yang dari luar tambah bagus ternyata dalamnya busuk. Maka pupus sudah harapannya untung besar dari kebun cabainya musim ini.

Pernah mengalami kerugian seperti cerita Agus di atas? Kemungkinan besar jika anda memiliki tanaman buah bahkan kebun buah, Anda pernah mengalaminya. Mengapa simak data berikut ini:
Lalat buah ini disebabkan oleh serangga dengan nama latin Bractocera spp, Dacus spp. Dengan sebaran meluas di seluruh Asia dan Pasifik. Hama Busuk Buah adalah hama sangat ganas yang menyerang sayur dan buah. Mengapa?
Karena tanaman yang terserang ada 26 jenis, yaitu :
  • Sayur : cabai, tomat, Pare.
  • Buah : Apel, Belimbing, Jeruk, Jambu Air, Jambu Biji, Nangka, Melon, Mangga, Pepaya, Semangka.

Sedangkan tanda-tanda serangan :
  • Buah muda menjadi rontok, buah tua menjadi busuk berbelatung.
  • Tingkat serangan pada 26 jenis tanaman sayur dan buah adalah 30 – 65 %.
  • Nah, yang lebih berbahaya adalah kecepatan perkembangbiakannya, yaitu: Nengat betina sekali bertelur 1 – 10 butir, shari bisa bertelur 40 butir, dan dalam satu kali siklus hidup satu betina menghasilkan 800 butir. 
Sangatlah wajar jika kebun cabai Agus dengan 2500 tanaman dapat rusak hingga sekitar 60%.

Dari luar negri diberitakan bahwa biaya pengendalian lalat buah di Jepang menghabiskan 5 MILYAR YEN atau setara 94, 15 MILYAR RUPIAH setahun. Sedang di Australia menghabiskan dana 146, 327 MILYAR RUPIAH setiap tahunnya. Di Tanah Karo Sumatera Utara saja petani jeruk mengalami kerugian hingga mencapai 37 MILYAR RUPIAH (sumber: komunitas karo di yahoo).

Selain itu Lalat Buah bisa menjadi penular bakteri yang berbahaya bagi kesehatan manusia yaitu Escherisia colii atau sering disebut E.Colii.
Selama ini pengendalian hama lalat buah dilakukan dengan berbagai cara. Cara yang paling populer adalah dengan pestisida kimia, yang sebenarnya berbahaya tidak saja bagi manusia tetapi terbukti bahwa semakin hari tingkat serangan Lalat buah tidak menurun, namun justru meningkat. Sehingga dikembangkan bahan artraktan yang mengandung methil eugenol sebagai bahan aktif yang terbukti efektif mengendalikan lalat buah jantan. Hanya saja methil eugenol tidak membunuh hanya menarik lalat jantan untuk masuk perangkap.
 

Berbagai produk methil eugenol telah dirilis ke masyarakat namun umumnya hanya terbatas pada bahan aktifnya saja sehingga petani harus membuat perangkapnya dahulu sebelum menggunakan. Hal ini merepotkan para petani sehingga seringkali tidak membuat perangkapnya dengan benar. Alhasil banyak lalat buah betina yang telah terperangkap berhasil keluar kembali. Sehingga menurunkan efektifitas produk tersebut.
Oleh karena itu dirancanglah produk yang dinamakan METILAT LEM sebagai atraktan pengendali lalat buah yang mengandung methil eugenol dengan dilengkapi lem sebagai perangkap.
 

METILAT LEM sangat efektif menarik lalat buah betina sekaligus membunuh lalat buah. Selain itu para petani diperlu lagi direpotkan membuat perangkap lalat buah karena METILAT LEM dirancang untuk dapat digunakan secara mudah. Pemakaian Metilat Lem, dalam 1000 m2 cukup 1 botol dengan dioleskan pada botol plastik. Perangkap yang dipasang cukup 5 – 10 perangkap/1000 m2.
Selain lalat buah, hama lain yang bisa terperangkap yaitu: Aphis sp dan Thrips sp.

Dengan 1 botol Metilat Lem bisa menghentikan kehilangan hasil dari busuk buah.
Read More »

Senin, 31 Mei 2010

PERKEBUNAN SAWIT: HEMAT MILYARAN RUPIAH DENGAN PROGRAM PIKAT (bagian1)


Hingga saat ini strategi peningkatan produksi sawit masih berkutat pada pola paling primitif, yaitu perluasan lahan. Ratusan ribu hektar kebun-kebun baru dibuka, sehingga sebagian mengalami konflik-konflik dengan berbagai kepentingan termasuk kepentingan terhadap kelestarian lingkungan.
Diakui ataupun tidak perkebunan Sawit memang menarik, jika dilihat dari kebutuhan yang terus meningkat setiap tahunnya, sementara tidak banyak negara yang mampu mengembangkan perkebunan sawit, sehingga kelak sawit menjadi bagian penting bagi negara dalam mengelola energi.
Hingga saat ini hasil sawit pengolahan sawit paling banyak digunakan sebagai:
  • konsumsi CPO semikin meningkat karena keunggulan produksi dan harga dibanding sumber minyak nabati yang lain
  • penggunaan produk turunan dari minyak sawit yang dapat dipergunakan untuk berbagai industri.
  • dan sawit juga potensial digunakan untuk bahan bakar nabati untuk menggantikan minyak bumi.
Namun demikian investasi untuk membangun industri sawit tidaklah kecil dan memerlukan jangka yang cukup panjang, sehingga perlu managemen khusus untuk menanganinya. Dari sisi budidaya berbagai pos biaya muncul untuk menjaga agar cashflow tetap terjaga untuk mengamankan investasi. Salah satu pos rutin yang cukup besar memakan biaya adalah biaya pemupukan, yang terdiri dari biaya bahan dan biaya aplikasi.
Seperti diketahui sejak April 2010 pupuk NPK bersubsidi telah mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan, sedangkan pupuk NPK komersial non subsidi telah lama mengalami kenaikan, sehingga dapat dimengerti jika hal ini menambah tekanan biaya produksi kepada para pemilik kebun sawit. Hal lain yang membahayakan produktifitas kebun sawit, selain harga, adalah kelangkaan. Sehingga harga dan ketersediaan pupuk NPK telah mempengaruhi produktivitas kebun sawit.
Solusi yang bisa dilakukan adalah meningkatkan efisiensi pemupukan atau mencari alternatif pupuk lain yang memiliki produktivitas yang sama namun lebih ringan biaya pemupukannya.
Mari kita coba simulasikan biaya pemupukan dari sisi bahan pupuknya dulu, dengan pendekatan bahwa sebuah pabrik CPO kelas menengah membutuhkan 10.000 hektar kebun sawit. Jika melihat rekomendasi umum kebutuhan pupuk Urea, SP36, MoP, dan Dolomit total berkisar 6-9 kg, dimana komposisinya berkisar 2:1,5:1,5:1 per pokok per tahun. Mengingat harga pupuk tersebut di atas saat ini, biaya yang muncul setidaknya Rp 25.000 per pokok dan jumlah pokok rerata adalah 135 pokok per hektar maka diperoleh biaya bahan pupuk per hektar sebesar Rp 3.375..000. maka dikalikan 10.000 ha akan diperoleh Rp 33,75 Milyar! tiap tahunnya.
Tentu saja angka Rp 33, 75 M per tahun tersebut sangatlah besar mengingat fluktuasi harga sawit. Wajar saja banyak perkebunan sawit berusaha menghemat dengan cara mengurangi kebutuhan pupuknya, agar biaya pemupukan berkurang, sehingga yang terjadi adalah produktivitas menjadi menurun.
Lalu apa yang ditawarkan program PIKAT untuk mengatasi keadaan tersebut? Itulah kira-kira pertanyaan mendasar ketika pemilik kebun Sawit mendengarkan presentasi kita. Bisa dipahami mengapa pertanyaan tersebut muncul. Karena usaha di perkebunan sawit walaupun sangat menarik memerlukan perhitungan investasi tersendiri.
Inti dari program pikat sejatinya adalah meningkatkan keuntungan dalam budidaya sawit. Hal ini dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
1.ditambah pupuk NASA secukupnya dengan mengurangi dosis pupuk makro
target: biaya pupuk dikurangi namun produksi tidak ber kurang
2.ditambah pupuk NASA dosis terbaik dengan mengurangi dosis pupuk makro
target: biaya relatif sama namun produksi meningkat
3.ditambah pupuk NASA dosis terbaik dengan tidak mengurangi dosis pupuk makro
target: biaya meningkat namun produksi meningkat jauh melebihi tambahan biayanya.
Read More »

Kamis, 06 Mei 2010

PRESENTASI KILAT

“Mari, silakan duduk.” sambut Direktur Utama sebuah perkebunan Sawit yang ternyata masih sangat muda. “ Apa yang anda bawa?” Begitu inti pembicaraan awal ketika Kami datang untuk memenuhi janji presentasi Maka dengan semangat 45 Kami berusaha menjelaskan kekuatan teknis produk kami, belum 3 menit kami presentasi beliau menyela,”sudah ada yang pakai belum”. “Sudah, pak!” jawab saya mantap. “skala perkebunan seperti punya saya?” tanya beliau lagi. “ Benar, pak. Ini referensinya.” jawab saya sambil mengulurkan beberapa lembar referensi perusahaan sejenis yang telah memakai produk kami.” lebih dari 3 tahun mereka menggunakan produk kami”. “ Ada hasil analisis laboraturiumnya?” tanya beliau lebih lanjut. “ ada, pak?” jawab saya ringkas. Sambil melihat-lihat kemasan, sejurus kemudian beliau berkata “ Oke, ini sampel produk saya coba dulu. Berapa lama kelihatan hasilnya di tanaman sawit?”. “ dua minggu untuk tanamannya terutama, pak. Kalau untuk buah tergantung umur tanaman, biasanya 2 bulan sudah terlihat hasilnya.” jawab saya mantap. “masak secepat itu,” tanya beliau. Namun ketika kami ingin menjelaskan secara teknis mengapa bisa secepat itu, tepat pada menit ke-10 beliau kembali memotong penjelasan kami,”Begini saja saya coba dulu saja, biar tanamannya saja yang bicara ”.
Belum sempat kami memberikan argumen lebih rinci, tiba-tiba meluncur pertanyaan “harganya berapa?”. Segera Saya sebutkan harga penawarannya, “ gak masuk!” begitu celutuknya. Blaik! Seru saya dalam hati..dijelaskan rinci manfaatnya tidak mau, ditunjukkan teorinya tidak mau..tiba-tiba mengambil kesimpulan tidak masuk!. Namun sejurus kemudian saya tersenyum kepadanya. Beliau tampak mengernyitkan dahi, seakan ingin tahu apa maksud saya tersenyum. “per hektar cuma 6 kg, pak. Tidak perlu ton!” seru saya. Masih dengan mengernyitkan dahi diraihnya kalkulator dengan cekatan. Dan kemudian “ cuma 40 gram per pokok, ya? Lalu gimana menaburkannya merata”, tanya beliau sangsi namun kali ini sambil tersenyum. “Ya, pak!” sambut saya. Sekali lagi beliau meraih kalkulatornya “Baik, ini saya langsung coba di kebun rumah. Kita lihat nanti 2 minggu kemudian. Ada kartu nama yang bisa saya hubungi?” begitu beliau mengahiri pertemuan 15 menit hari itu. Segera saja saya ulurkan kartu nama saya. Dan semua tersenyum.
Begitulah kisah nyata yang terjadi. Dalam perjalanan pulang kami masih membicarakan presentasi 15 menit yang cepat dan lugas. Di sisi waktu yang diberikan kepada kami, kami memang agak kecewa karena tidak diberi kesempatan untuk untuk menjelaskan secara rinci. Namun dari sisi hasil ini jauh lebih baik dari pada berbusa-busa tanpa ada komitment diakhir presentasi
Pada akhirnya kami mengambil hikmah bahwa penting untuk segera mengetahui minat pendengar kita, sehingga kita bisa langsung masuk pada pokok persoalan yang akan diselesaikan. Ini sangat membantu kita mengerti apa kebutuhan audien sekaligus audien memahami apa keinginan kita. Salam sukses GO!ORGANIK
Read More »